RESUME 4 - Pengembangan E-learning dalam Pembelajaran Kimia
Seiring e-learning telah berkembang menjadi agen perubahan global di bidang pendidikan tinggi, semakin beragam bentuk dan aplikasinya. Keanekaragaman yang meningkat ini telah mempersulit kemampuan kita untuk berbagi temuan penelitian dan praktik terbaik, karena kita kekurangan seperangkat definisi untuk membedakan antara banyak variasi pada e-learning yang telah muncul. Makalah ini dirancang untuk memberi para praktisi, peneliti, dan pembuat kebijakan dengan seperangkat istilah dan definisi yang sama untuk memandu pengembangan lapangan yang sedang berlangsung. Harapan kami adalah bahwa hal itu akan menggerakkan kita menuju serangkaian definisi bersama dan dipahami secara umum yang akan memfasilitasi pembagian data penelitian dan standar profesional di bidang kita. Dalam mengembangkan definisi di bawah ini, kami telah mencoba menggabungkan definisi yang ada yang dikembangkan oleh orang lain dan memasukkan komentar dari rekan kerja yang telah meninjau draf sebelumnya. Kami tidak menyajikan ini sebagai definisi akhir, namun sebagai langkah menuju standar yang lebih umum diadakan karena lapangan kami terus berkembang. Penambahan dan revisi akan dipublikasikan secara berkala, sesuai kebutuhan.
E-learning merupakan
suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke
siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer
lain (Hartley, 2001).
E-learning membuat
pembelajaran dapat lebih terbuka dan fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi
kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja. Salah satu media yang
dikembangkan untuk menunjang pembelajaran secara online adalah program
LMS (Learning Management System). Menurut Yasar dan Adiguzel (2010), Learning
Management System (LMS) adalah suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai
fungsi untuk memberikan sebuah materi belajar, mendukung kolaborasi, menilai
kinerja peserta didik, merekam data peserta didik, dan menghasilkan laporan
yang berguna untuk memaksimalkan efektifitas dari sebuah pembelajaran. Selain
materi ajar, skenario pembelajaran perlu disiapkan dengan matang untuk
mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses
belajar mereka (Hasbullah, 2009).
Pengertian e-learning berbeda
dengan pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran
jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan
bagian dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian
National Training Authority bahwa e-learning merupakan
suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu
meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua
media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi
lebih fleksibel. Online learning merupakan suatu pembelajaran
yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang
menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas
cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih
luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media
elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance
learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik setiap
waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning dapat
diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi
informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan
internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di
lembaga pendidikan.
Penerapan e-learning banyak variasinya,
karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Surjono
(2007), menekankan penerapan e-learning pada pembelajaran
secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu.
Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan
pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah
dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing
list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan
pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem
informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana
pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian
tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran
berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan
ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
1.
Web
Supported e-learning,
yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan
penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran,
materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat;
2.
Blended
or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap
muka dan sebagian lagi dilakukan secara online;
3.
Fully
online e-learning format,
yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka
antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan
menggunakan teleconference.
Penerapan e-learning lebih
banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net)
atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah
pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan)
yang memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara
cepat. Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada
beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik
dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran
penting di dalam penerapan e-learning, karena jika teknologi
tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning,
minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun
petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat
dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah
kemandirian.
E-learning sangat berbeda dengan pembelajaran
secara tradisional. Pada pembelajaran tradisional, peran pendidik masih cukup
dominan, sedangkan pada e-learning peserta pendidik harus
mempunyai kesadaran untuk belajar secara aktif dan mandiri. Nedelko (2008),
menjelaskan beberapa karakteristik peserta didik yang dapat mempengaruhi dari
keberhasilan e-learning :
1.
Mempunyai
pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya,
karena e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan
peralatan TIK;
2.
Motivasi
untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan
dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja;
3.
Disiplin,
peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan
waktu dan tempat untuk belajar;
4.
Mandiri,
kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning,
karena tidak setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka.
Pembelajaran tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik
dengan pendidik, bukan sebagai transfer pengetahuan saja;
5.
Mempunyai
ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi
pembelajaran disajikan secara online ataupun melalui media elektronik;
6.
Dapat
belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika
belajar harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan
dengn e-learning;
7.
Mempunyai
kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning hendaknya
mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini dapat untuk
mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan teman
sebayanya;
8.
Mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah
secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.
Tidak ada satupun model pembelajaran
yang sempurna. Seperti halnya e-learning juga mempunyai
kelebihan dan kekurangan di dalam penerapannya. Kelebihan dari e-learning antara
lain :
1.
Mengurangi
biaya, walaupun pada awal pemasangan infrastruktur e-learning yaitu
jaringan internet agak mahal, tetapi selanjutnya akan mengurangi biaya
akomodasi karena informasi didapatkan dari berbagai tempat tanpa harus datang
ketempat tersebut.
2.
Pesan/
isi e-learning dapat tetap (konsisten), dan juga dapat
disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
3.
Materi
pembelajaran lebih up to date dan dapat diandalkan. E-learning yang
berbasis internet (web) dapat memperbaharui materi secara cepat,
sehingga membuat informasi lebih akurat dan berguna untuk jangka waktu
tertentu.
4.
Pembelajaran
24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Pendidik dan peserta didik dapat
mengakses kapan saja dan dimana saja.
5.
Universal,
setiap orang dapat melihat atau menerima materi yang sama dan dengan cara yang
sama.
6.
Membangun
komunitas, e-learning memungkinkan peserta didik maupun
pendidik membangun sebuah komunitas yang berkelanjutan, untuk saling berbagi
pengetahuan selama dan setelah pembelajaran.
7.
Daya
tampung yang besar, e-learning tidak hanya dapat menampung 10
sampai 100 partisipan, tetapi juga dapat menampung ribuan partisipan.
Kelemahan dari e-learning lebih banyak
dipengaruhi oleh faktor peserta didik dan pendidik. Kelemahan e-learning yang
dirasakan oleh pendidik umumnya adalah memerlukan waktu yang banyak untuk
mempersiapkan materi pembelajaran serta memperbaharui materi pembelajaran yang
telah disajikan di dalam media elektronik. Adapun kelemahan e-learning dipandang
dari segi peserta didik antara lain :
1.
Merasa
kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian karena tidak adanya interaksi
fisik dengan pendidik dan teman-temannya, terutama untuk model fully
online e-learning format.
2.
Keterampilan
menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan
peralatan ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat
mempengaruhi hasil akhir pembelajaran.
3.
Peserta
didik yang tidak disiplin dan kurang memilikii motivasi untuk belajar akan
sulit mengikuti tahap-tahap proses pembelajaran.
4.
Ada
beberapa konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk dimodelkan atau dipelajari
tanpa bimbingan pendidik.
5.
Adanya
permasalahan saat menentukan format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya
peserta pendidik di dalam mengikuti pembelajaran secara e-learning.
E-learning membutuhkan model yang harus didisain dalam bentuk
pembelajaran inovatif. Pengembang, mempunyai kesempatan dalam
merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan program e-learning.
Untuk keperluan pengembangan e-learning, pengembang konten
pembelajaran diharapkan melakukan keseluruhan dari kecakapan mengajar dalam
proses pembelajaran e-learning. Pengembang diharapkan dapat
mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang mungkin terjadi dalam pembelajaran
konvensional. Walaupun demikian, pengalaman belajar yang terstruktur dengan
baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan komunikasi dalam proses
pembelajaran e-learning. Performansi peserta didik melalui e-learning adalah
memperlihatkan kemampuan e-learning dalam pengintegrasian
proses pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan dengan proses
pengembangan yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran dalam
fasilitas format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam
penstrukturan konten.
Konten e-learning adalah objek yang harus
ada agar pembelajaran dapat berjalan, sedangkan aktor e-learning adalah
individu-individu yang melaksanakan pembelajaran e-learning.
Konten e-learning dapat berupa text-based content, multimedia-based
content ataupun kombinasi keduanya (text-based content dan multimedia-based
content).
Aktor dalam pelaksanakan e-learning dapat
dikatakan sama dengan aktor pada pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran
diperlukan adanya pengajar atau tutor yang membimbing, siswa yang menerima
bahan ajar dan pengajaran serta administrator yang mengelola
administrasi dan proses belajar mengajar.
Konten dan aktor memiliki hubungan yang sangat erat, karena
konten e-learning dibuat, disimpan, dirawat dan dipergunakan
oleh aktor e-learning itu sendiri. Terdapat daur hidup (lifecycle)
dalam konten e-learning dan aktor adalah pusat dari daur hidup
tersebut. Aktor berperan dalam membua (create), menyimpan (archive),
merawat (maintain) dan mempergunakan (use) konten e-learning.
Setiawan (2014) melaporkankan bahwa Technology
Acceptance Model (TAM) telah mengalami ekstensi dengan
memperhatikakan faktor eksternal, yaitu keyakinan diri (self efficacy)
dan tekanan sosial (sosial influence) yang menjelaskan lebih lanjut dan
penyebab dari kemudahan penggunaan (Perceived Ease Of Use) dan tentang
kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang dimiliki pengguna teknologi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan teknologi
adalah pengaruh sosial (social influence) atau lebih spesifik disebut
dengan psychological attachment.
METODE
Penelitian dilakukan dengan cara mencari data sekunder yaitu
studi literatur yang terdiri atas jurnal-jurnal karya ilmiah dan penelitian,
buku, dan artikel online di internet. Faktor-faktor dalam TAM yang menjadi
perhatian adalah sebagai berikut:
1.
Portal
Design (PD)
adalah antarmuka yang dapat membantu para pemakai dalam menggunakan sistem
secara mudah dengan mengurangi usaha dalam mengidentifikasi objek tertentu pada
layar atau penyediaan navigasi yang jelas antara layer yang
satu dengan yang lainnya.
2.
E-resources
Organization (ErO)
adalah tatacara sistem komputer sehingga dapat secara efektif terintegrasi ke
dalam pekerjaan praktis dari suatu organisasi tertentu, dalam hal ini ialah
pembelajaran.
3.
Individual
Differences (ID)
adalah faktor pribadi pengguna yang memiliki pengetahuan dasar mengoperasikan
komputer baik dari segi teknologi Sistem Operasi maupun aplikasi-aplikasinya,
lamanya penggunaan berbagai macam aplikasi sistem e-learning sejenis,
dan pengetahuan atas bahan ajar akan memberikan kepercayaan diri dan kemudahan
adaptasi sistem e-learning.
4.
Social
Influence (SI)
adalah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan melalui
ketatan, identifikasi dan internalisasi.
5.
Perceived
Ease of Use (PEoU)
adalah tingkat kepercayaan bahwa sistem e-learning akan mudah
untuk dipakai dan terbebas dari kesulitan.
6.
Perceived
Usefulness (PU)
adalah tingkat kepercayaan bahwa penggunaan sistem e-learning akan
meningkatkan pencapaian pembelajaran.
7.
Attitude
Toward Using (ATU)
adalah sikap pengguna (user) ke arah menggunakan sistem e-learning.
8.
Behavioral
Intention to Use (ITU)
adalah minat pengguna (user) ke arah berlanjutnya penggunaan e-learning yang
dianggap memberikan manfaat pada proses pembelajaran.
9.
Actual
System Usage (ASU)
adalah pengguna (user) benar-benar menggunakan e-learning secara
nyata karena merasakan manfaatnya.
Implementasi e-learning pada pembelajaran
sains di sekolah sejauh ini memang dirasakan kurang optimal. Sebagian orang
beranggapan bahwa implementasi e-learning hanya sekedar
mengikuti trend saja, namun sebagian lain beranggapan bahwa e-learning menjadi
sebuah kebutuhan untuk mendukung terciptanya proses pembelajaran yang baik.
Beberapa kemampuan sistem e-learning yang
dapat digunakan diantaranya: menambah jam pembelajaran, edit profil
pribadi, edit judul dan deskripsi topik, memasukkan materi, materi yang
diketikkan langsung, meng-upload file, forum diskusi, membuat forum,
menambahkan topik diskusi, membalas pesan, dan quiz /
soal multiple choice.
Hasil penelitian Setiawan (2014) tentang implementasi e-learning menggunakan Technology
Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan
mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai
berikut.
1.
Pengguna
(peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan
sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka
akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning.
Dari minat penggunaan tersebut maka para pengguna akan senantiasa secara nyata
menggunakan sistem e-learning sebagai sumber pembelajaran.
2.
Keberadaan
pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar
pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut.
Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang
sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut
yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
3.
Bentuk
model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang
diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan
kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam
penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi
komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar)
sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk
dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam
pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi
efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan
hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan
memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung,
motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna
lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam
pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.
Terlepas dari pro-kontra dalam pelaksanaannya, e-learning merupakan
suatu variasi model pembelajaran yang hendaknya diterapkan pada pembelajaran
sains di sekolah. E-learning merupakan suatu jalan untuk
mengintegrasikan perkembangan TIK di dalam pembelajaran. Selain untuk
meningkatkan soft skill peserta pendidik di dalam bidang
teknologi, e-learning juga dapat meningkatkan kemandirian dan
peran aktif peserta pendidik di dalam proses pembelajaran. Hal ini tidak
terlepas dari upaya untuk terus melakukan pembaruan atau inovasi dalam
pendidikan.
Pembaharuan atau inovasi yang harus dilakukan untuk
memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia meliputi aspek pengembangan
teknologi yang digunakan dalam proses pendidikan, sistem pendidikan yang
diterapkan, bahkan inovasi yang berhubungan langsung dengan proses pembelajaran
yaitu inovasi mengenai kurikulum, strategi belajar, metode pengajaran atau
model yang diterapkan dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa ciri inovasi
dalam pendidikan, antara lain:
1.
Mempunyai
ciri khas artinya sebuah inovasi mempunyai ciri yang khas dalam setiap
aspeknya, entah itu program, ide atau gagasan, tatanan, sistem dan kemungkinan
hasil yang baik sesuai yg diharapkan.
2.
Mempunyai
ciri atau unsur kebaruan, artinya adalah suatu inovasi harus mempunyai sebuah
karakteristik sebagai suatu karya dan buah pemikiran yang mempunyai
keoriginalan & kebaruan.
3.
Program
inovasi dilakukan lewat program yang terencana, artinya bahwa sebuah inovasi
dilakukan lewat bentuk proses yang tidak tergesa-gesa, tapi dipersiapkan dengan
matang, jelas dan direncanakan terlebih dahulu.
4.
Sebuah
Inovasi yang diluncurkan mempunyai tujuan, suatu program inovasi yang dilakukan
harus mempunyai arah kemana tujuannya dan target yang ingin dicapai.
Pembaharuan dalam pendidikan diperlukan bukan saja dalam
bidang teknologi, tetapi juga disegala bidang termasuk bidang pendidikan.
pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam
setiap komponen sistem pendidikan. Seorang guru harus mengetahui dan dapat
menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang
kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal. Tujuan inovasi
pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas:
sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya dengan hasil pendidikan
sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat dan
pembangunan) dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam
jumlah yang sekecil-kecilnya.
Agar implementasi e-learning tidak dianggap
hanya sekedar mengikuti trend saja maka dalam pelaksanaannya harus diupayakan
sedemikian rupa agar dapat diperoleh manfaat yang optimal. Seperti halnya
pembelajaran dengan cara lain, e-learning dapat memberikan
manfaat yang optimal jika beberapa kondisi terpenuhi.
Sebelum memutuskan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran
melalui e-learning, maka satu hal yang perlu ditentukan terlebih
dahulu adalah apa yang menjadi tujuan belajar yang akan kita capai. Berdasarkan
inilah kita akan dapat memilih topik, bahan-bahan belajar, lama belajar, biaya,
dan sarana atau media pembelajaran yang sesuai (dalam hal ini yang difokuskan
adalah media pembelajaran elektronik). Tujuan ini hendaknya bersifat spesifik
dan terukur.
1.
Peserta
didik
Cara belajar dengan e-learning memberikan
peluang untuk menjadi peserta didik yang bersifat independen. Jadi, untuk
mendapatkan manfaat yang optimal dari e-learning, kita hendaknya
merasa senang dan termotivasi untuk belajar secara independen dan mengembangkan
sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran dan perluasan wawasan. Artinya,
kita memliki motivasi untuk menguasai topik pelajaran, memperlakukan kegiatan
belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas
diri, dan mampu menerapkan disiplin dalam kegiatan belajar.
2.
Dukungan
Cara belajar melalui e-learning akan
lebih mudah jika mendapat dukungan dari orang-orang yang terkait dengan peserta
didik. Dengan dukungan dari berbagai pihak, semangat belajar yang terkadang
turun dapat tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi.
3.
Media
lain
E-learning hanyalah sebuah alat atau
wahana yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Alat atau wahana ini
jika digunakan bersama alat-alat lainnya akan mempercepat dan mempermudah
pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak harus
sepenuhnya digunakan secara murni, tetapi bisa diintegrasikan dengan penggunaan
media lain sehingga saling menunjang meraih tujuan si pembelajar.
Perkembangan teknologi e-learning telah
memberikan nuansa baru di dalam pendidikan kita. Jika waktu-waktu sebelumnya,
secara konvensional guru melakukan proses pembelajaran dengan menghimpun siswa
pada tempat atau ruangan tertentu secara bersamaan, kondisi tersebut kini telah
diperkaya dengan berkembangnya perkembangan melalui jasa teknologi yang tidak
lagi selalu mengharuskan peserta didik berkumpul secara bersamaan dan dibatasi
oleh waktu dan tempat.
Kebutuhan akan adanya e-learning secara
global akan selalu meningkat dari tahun ketahun karena e-learning dijadikan
sebagai media alternatif dalam melaksanaklan pendidikan dan juga sebagai alat
untuk mencapai pembentukan kompetensi yang kompetetif dalam dunia pendididikan,
khususnya pendidikan sains. Munculnya e-learning berdampak
besar pada dunia pendidikan. Pihak-pihak yang paling berperan utama dalam dunia
pendidikan pun tidak luput dari dampak e-learning tersebut.
Para pelajar merasakan sensasi belajar yang benar-benar berbeda dibandingkan
kelas konvensional. Akses mereka terhadap informasi juga meningkat dengan drastis.
Selain itu, para pelajar juga dapat memilih sendiri cara belajar yang dirasa
paling cocok dengan kepribadian mereka ketika mengikuti kelas e-learning.
E-Learning sebagai sebuah wacana baru dirasakan lebih sesuai
untuk peserta didik dengan karakteristik diatas, keterbatasan waktu
keterbatasan tempat belajar, keterpisahan jarak secara geografis, dan keinginan
peserta didik untuk belajar ditempatnya sendiri. Hal ini akan terpenuhi jika
metode yang adalah e-Learning. Dengan demikian, e-learning telah
memperbesar kesempatan bagi individu untuk mendapatkan pendidikan yang
diinginkannya sekaligus mempercepat terciptanya masyarakat yang yang
berpengetahuan (knowledge-society).
Pengembangan penggunaan metode e-learning perlu
dirancang secara cermat sesuai tujuan yang diinginkan. Jika kita setuju
bahwa e-learning di dalamnya juga termasuk pembelajaran
berbasis internet, perlu dipertimbangkan dalam pengembangan e-learning.
Ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet,
yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course.
Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan,
yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan
adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan,
ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui
internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara
belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan
melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling
melengkapi. Dalam model ini pengajar dapat memberikan petunjuk pada siswa untuk
mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya.
Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang
relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi
tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut.
Model web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk
menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas.
Fungsi internet lainnya adalah untuk memberikan pengayaan
dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik,
anggota kelompok, atau peserta didik dengan narasumber lain. Oleh karena itu
peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi
di internet, membimbing siswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan
dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan
diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan
lain yang diperlukan. Pengembangan e-learning tidak
semata-mata hanya menyajikan meteri pelajaran secara online saja,
namun harus komunikatif dan menarik. Materi pelajaran didesain seolah peserta
didik belajar dihadapan pengajar melalui layar komputer yang dihubungkan
melalui jaringan internet. Untuk dapat menghasilkan e-learning yang
menarik dan diminati, mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam
merancang e-learning, yaitu sederhana, personal, dan cepat. Sistem
yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan
menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi
pengenalan sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu
belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan
pada belajar menggunakan sistem e-learningnya.
Syarat personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan
baik seperti layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan murid di depan
kelas. Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, peserta didik
diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal
ini akan membuat peserta didik betah berlama-lama di depan layar komputernya.
Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap
keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya. Dengan demikian perbaikan
pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau pengelola.
Untuk meningkatkan daya tarik belajar, perlunya menggunakan teori games.
Teori ini dikemukakan setelah diadakan sebuah pengamatan terhadap perilaku para
penggemar games komputer yang berkembang sangat pesat.
Bermain games komputer sangatlah mengasyikan. Para pemain akan
dibuat hanyut dengan karakter yang dimainkannya lewat komputer tersebut.
Peserta didik mampu duduk berjam-jam dan memainkan permainan
tersebut dengan senang hati. Fenomena ini sangat menarik dalam mendesain e-learning.
Dengan membuat sistem e-learning yang mampu menghanyutkan
peserta didik untuk mengikuti setiap langkah belajar di dalamnya seperti
layaknya ketika bermain sebuah games. Penerapan teori games dalam merancang
materi e-learning perlu dipertimbangkan karena pada dasarnya
setiap manusia menyukai permainan.
Secara ringkas, e-learning perlu diciptakan
seolah-olah peserta didik belajar secara konvensional, hanya saja dipindahkan
ke dalam sistem digital melalui internet. Oleh karena itu e-learning perlu
mengadaptasi unsur-unsur yang biasa dilakukan dalam sistem pembelajaran
konvensional. Misalnya dimulai dari perumusan tujuan yang operasional dan dapat
diukur, ada apersepsi atau pre test, membangkitkan motivasi,
menggunakan bahasa yang komunikatif, uraian materi yang jelas, contoh-contoh
kongkrit, problem solving, tanya jawab, diskusi, post test,
sampai penugasan dan kegiatan tindak lanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson,
B. (2005). “Strategic e-learning implementation.” Educational Technology & Society, 8 (4), 1-8. 1.
ISSN 1436-4522
Kumar, J.
(2006). Aplikasi Pembelajaran online dalam Pengajaran dan
Pembelajaran di Sekolah-sekolah Malaysia. http://www.tutor.com.
Diakses: 19 Februari 2017.
Nedelko,
Z. (2008). Participants’ Characteristics for E-Learning. http://www.g-cass.com.
Diakses: 19 Februari 2017
Setiawan,
W, dkk. (2014). Analisis Penerapan Sistem E-Learning FPMIPA UPI
Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Jurnal
Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 1, April 2014, hlm. 128-140.
Silahudin.
(2015). Penerapan E-LEARNING dalam Inovasi Pendidikan. Jurnal Ilmiah CIRCUIT
Vol. 1 No. 1 Juli 2015.
Surjono,
H.D. (2007). Pengantar E-learning dan Implementasinya di
UNY. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pembelajaran online UNY.
Juli. Yogyakarta.